"Terima kasih, pak, terima kasih". Berulang-ulang kali dia mengucapkan terima kasih pada pak Roni yang telah menolongnya membelikan sepeda untuk berjualan koran. Pak Roni, seorang yang telah diumumkan meninggal, namun beberapa jam kemudian hidup kembali. Hanya mati suri saja rupanya. Dan subhanallah ternyata mati suri yang tidak sampai 4 jam itu, merupakan kursus hidup yang sungguh sangat luar biasa. Dia yang tadinya tergolong sebagai orang yang tidak taat ibadah, pelit, sombong, telah berubah menjadi orang yang dermawan, rendah hati dan sangat peduli.
Saat mati suri, dia diperlihatkan dosa dan pahalanya. Lalu dia pun tercengang, karena pahalanya yang begitu sedikit sedangkan dosanya begitu banyaknya, hingga akhirnya dia diperlihatkan neraka yang begitu berat siksanya. Dia menangis sejadi-jadinya sampai pingsan, ketika di giring menuju ke neraka. Pengalaman mati suri itulah yang membuat dirinya berubah total. Dia sadar bahwa kepelitannya dan kesombongannya telah mengantarkan dia masuk ke dalam neraka. Dan sejak itu ketika Allah ijinkan hidup kembali, maka dia bertekad untuk taat beribadah, menjadi orang yang dermawan, rendah hati dan peduli. Hidup memang harus demikian rendah hati, dermawan dan peduli. Namun apakah kita harus mati suri dahulu baru kemudian mau seperti pak Roni? kiranya tidak. Yang perlu bagi kita adalah kesadaran, bahwa kita masih diberi waktu oleh Allah, masih ada waktu. Sadar bahwa kebaikan kita di dunia, kelak akan berbuah surga, dan keburukan kita di dunia, kelak akan berbuah neraka. Sebab itu berbuat baiklah. Selagi kita masih diberi waktu :)
*versi ramadhan
No comments:
Post a Comment