Monday, September 14, 2009

tak ada yang SEMPURNA

iseng-iseng bikin cerita buat tugas bahasa indonesia di sekolah, langsung copas ke blog .

"Hoaaamm...." Lia menguap dengan lebar, berjalan mendekati jendela rumah. "Andaikan aku bisa bermain hujan-hujanan seperti mereka" gumam Lia dalam hati. "Tapi itu tidak mungkin, mama pasti akan melarangku". Segera Lia menghapus niatnya itu dan pergi keluar dari kamarnya.
Hari ini hujan sangat deras, banyak anak-anak sebaya Lia bermain hujan-hujanan. Mereka bersorak riang gembira. Lia menghampiri mama yang sedang memasak sup. "mama....." Lia memeluk mamanya dari belakang, "masakannya harum sekali, perutku jadi lapar". Mama tersenyum. "Kalau begitu Lia duduk disini, sebentar lagi supnya matang". asikkk.... Lia bersorak riang. Lia menyantap makanan yang ada di depannya. "Mama kapan ya Lia bisa bermain seperti mereka?!" Mama melihat keluar jendela kemudian menatap Lia dan tersenyum.
"Lia sayang. kalau Lia ingin seperti mereka, Lia harus makan yang banyak supaya Lia cepat sembuh, gimana?"
"Beneran ma, Lia bisa sembuh?"
"Sudah pasti sayang" mama memakaikan syal ke leher Lia sambil memeluk anaknya yang hanya semata wayang. "Kau harus tetap hangat nak!" Lia tersenyum-senyum sendiri melihat teman-temannya bermain. Walaupun hujan, mereka tetap ceria, rasanya pasti sangat senang jika aku berada di antara mereka. "Bagaimana rasanya ya?!" gumam Lia. Mama menatap Lia dengan sedih. "Maafkan mama sayang" mama mencium kepala Lia dengan lembut.

***

"Bu manik-manik yang warna putihnya habis"
"Wah.. kamu narus segera membelinya. Tolong Ibu nak, belikan di pasar langganan Ibu". Ibu memberikan uang kepada Nita, "Kenapa bukan mas Andi saja yang disuruh bu? Diluar hujan deras" tolak Nita. "Yasudah, panggilkan mas Andi"
"Mas Andi dipanggil Ibu. Mas disuruh Ibu pergi ke pasar, belikan manik-manik yang seperti ini" Lia menyodorkan manik-manik yang dimaksud. "Tunggu sebentar ya de, mas harus menyelesaikan PR". "Yah.. Mas manik-manik itu harus segera dibeli, aku harus memasangnya, soalnya baju itu mau diambil pemiliknya besok pagi" seru Nita. "Itu benar nak" Ibu menimpali dari belakang. "Jangan lupa bawa payung, diluar hujan deras".
"Bu berapa banyak lagi jahitannya, apa yang harus Nita bantu?"
"Untuk saat ini cukup nak" Ibu terus menjahit baju-baju pesanan para tetangga. "Jangan lupa kerjakan PR mu, sambil menunggu mas Andi kembali"
"Tenang saja bu, Nita sudah mengerjakan semua tugas sekolah".
"Ibu bangga dengan mu nak, kau memang anak yang pintar"
"Siapa dulu ibunya?" Nita tersenyum riang.

***

"Mas Andi tungguin dong" teriak Nita. "Cepetan Nit, kita bisa terlambat nanti" sambil mengeluarkan sepedanya. "Jangan lupa bawa bekal kalian" Ibu memberikan bekal ke Andi dan Nita. "Kami pergi dulu ya Bu" satu-satu menyalami tangan Ibu dan berlalu. "Hati-hati nak".
Nita dan Andi selalu pergi dengan sepeda ke sekolah. Mereka bersekolah di sekolah yang sama. Nita duduk di kelas 2 SMP dan Andi duduk di kelas 3 SMP Negeri 1 mulia. Mereka berdua adalah siswa yang berprestasi, nilai-nilainya sangat memuaskan dan selalu mendapatkan beasiswa. Bel berbunyi, para siswa dan siswi harus berbaris di lapangan untuk mengikuti upacara. Para siswa dan siswi mengikuti upacara dengan tertib.
Upacara pun usai. Para siswa dan siswi kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Nita dan teman-teman berhambur berlarian menuju tempat duduk mereka. "Hey Li.." sapa Nita sambil duduk di sampingnya. "Gimana keadaanmu?"
"Iya aku baik-baik saja" jawabnya lesu. "Aku iri pada kalian yang selalu ceria". Nita nyengir ke arah Lia "Kamu bisa juga kok seperti kita". Percakapan mereka terputus saat guru sejarah memasuki kelas.

***

"Nita setelah makananmu habis, tolong antarkan baju-baju ini". pinta Ibu kepada Nita. "Alamatnya sudah Ibu tulis di dalamnya". "Siap laksanakan Bu" Nita pun pergi dengan mengayuh sepedanya. Ibunya adalah tukang jahitdan ayah Nita sudah meninggal sejak Ia duduk di bangku kelas 4 SD, sehingga Ibunyalah yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Satu per satu pesanan telah diantar. Nita sangat kelelahan. Hari hampir malam. Tibalah Nita di rumah yang sangat besar. "Wah rumah ini besar sekali, indahnya". "Mau mencari siapa de?" seorang satpam mengejutkannya. "Maaf pak, apakah benar ini rumah Ibu Dinda? Saya disuruh Ibu saya untuk mengantarkan jahitan ini". "Tunggu sebentar de, saya akan cek dulu".
"Benar de, ade disuruh masuk ke dalam" sambil membukakan pintu pagar. Nita memasuki halaman rumah dengan berdecak kagum. "Beda sekali dengan rumahku" gumamnya.
Pintu rumah terbuka "Selamat sore Bu" sapa Nita. "Ini pesanan jahitan Ibu sudah selesai" sambil menyodorkan plastik yang berisi jahitan. "Terima kasih ya, berapa yang harus saya bayar?". "Di dalam bungkusan itu ada catatannya". "Baik tunggu sebentar, duduk dulu de" sambil mempersilahkan duduk.
"Siapa yang datang ma?" tanya Lia. "Anaknya tukang jahit mama, sepertinya dia seusiamu" jawab mama. Lia bergegas ke ruang tamu karena rasa ingin tahunya. "Hey Nit" sapa Lia. "Hey Lia, jadi ini rumahmu? besar dan indah sekali ya?" "Ah.. biasa saja". Mama keluar dari kamar dengan membawa amplop yang berisi uang. "Wah.. rupanya kalian sudah saling kenal ya?" tanya mama Lia. "Iya ma, Nita teman sebangku ku di sekolah" jawab Lia. Nita tersenyum sambil menganggukan kepala. "Ini bayarannya" mama memberikan amplop kepada Nita. "Makasih bu, kalu begitu saya pulang dulu" Nita undur diri "Hati-hati ya, hari sudah hampir gelap" nasihat Ibu Dinda. "Sampai bertemu di sekolah besok" sapa Lia. Nita pun berlalu dan mengayuh sepedanya.

***

Di dalam kelas, saat istirahat
"Nita, ajarkan aku matematika, mau ya?"
"Boleh saja, bagian mana yang tidak kamu mengerti Lia?" sambil membuka buku matematika. "Yang ini" jawab Lia. "Oh yang ini" Nita menerangkan soal yang dimaksud. "Mengertikan sekarang?" tanya Nita. "Iya ternyata gak susah-susah banget ya?"
"Kalau aku ada yang gak ngerti, boleh tanya lagi?"
"Dengan senang hati" jawab Nita sambil tersenyum.
Bel berbunyi, tanda istirahat telah usai. Guru matematika yang kebetulan adalah wali kelas memasuki ruangan. "silahkan kembali ke tempat duduk masing-masing!" Ibu guru memerintah. Para siswapun segera duduk dan mengeluarkan buku. "Sebelum pelajaran dimulai, Ibu punya sedikit pengumuman". "Apa bu?" tanya Ridho sang ketua kelas. Teman-teman yang lain mendengarkan dengan seksama "Hari minggu sore besok, kalian diundang ke acara ulang tahun teman kita Lia" jawab Ibu guru. "Horeee..." gemuruh para siswa seisi kelas. "Baiklah kita lanjutkan pelajaran". "Kenapa kau tidak bilang padaku?" tanya Nita pada Lia. "Maaf aku tidak tahu. Mama telah mempersiapkan semua tanpa sepengetahuanku". "Senang sekali punya mama yan perhatian" jawab Nita. Lia hanya tersenyum.

***

Nita membongkar-bongkar isi lemari pakaiannya. "Sedang cari apa nak?" tanya Ibu. "Kenapa semua baju-bajumu dikeluarkan?". "Aku tak punya baju yang cocok untuk dipakai ke pesta ulang tahun Lia, Bu" keluh Nita. "Andaikan saja aku punya uang untuk membeli baju yang bagus". "Pakai saja baju yang ada nak!" perintah Ibu. "Tapi bu, Lia itu anak orang kaya, pasti dia akan merayakan pesta yang meriah." protes Nita kepada Ibunya. "Bu buatkan baju untukku ya?" pinta Nita. "Ibu tidak mempunyai bahan untuk membuatnya, uang yang ibu punya dari hasil menjahit hanya cukup unutk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari." Ibu menjelaskan Nita cemberut, sedih. Andi mendengar percakapan adik dan ibunya. "Nih de" sambil meyodorkan uang. "Untuk apa Mas??" tanya Nita. "Untuk membeli baju, itu uang yang mas kumpulkan dari hasil memberikan les pada teman-teman." Andi menjelaskan. Ibu yang mendengarkan sangat sedih. "Simpan saja uangmu Di" pinta Ibu. "Ibu akan membuatkan baju yang bagus dan unik". "Tapi kan Ibu tidak punya kain" sela Nita. "Ibu masih punya kain percak" jawab Ibu. Nita bingung.

***

Hari minggu pun tiba. Teman-teman Lia telah berkumpul di halaman belakang rumahnya. Pesta ulang tahunnya diadakan di dekat kolam renang. Nita datang dengan gaun yang dibuat dari kain percak buatan ibunya. Rambutnya dikuncir buntut kuda. Sungguh serasi. Semua teman-temannya memperhatikan Nita. "Selamat ulang tahun Lia." Nita memberi selamat.
Tiba waktunya makan. Lia memuji baju yang dipakai Nita. "Bagus sekali baju yang kau pakai". "Terima kasih" Nita tersenyum. "Ibuku yang membuatnya dari kain percak." "Ibumu memang pintar" puji Lia. Tiba-tiba wajah Lia menjadi pucat, badannya meriang dan panas. Demamnya tinggi dan Lia pun jatuh pingsan. Spontan Nita memopong badan Lia yang jatuh. Teman-teman yang lain berteriak histeris melihatnya. Mama Lia berteriak "Papa cepat telpon ambulans!"
Pesta yang begitu merih menjadi duka.

***

Lia masuk di ruang ICU, mama Lia nampak sangat sedih. "Bagaimana dok?" mama Lia bertanya pada dokter. "Ini tahap kritis yang dialami oleh putri ibu" jawab dokter. "Bapak dan Ibu harus sabar" dokter menenangkan. "silahkan mendampingi putri kalian dan berdoalah"
Nita memperhatikan sahabatnya Lia yang terbaring di ruang ICU. "Aku tahu Lia sakit, tapi aku tidak tahu kalau sakitnya separah ini" gumam Nita dalam hati. Lia terserang penyakit leukimia yang dideritanya sejak kecil. "Padahal aku selalu berpikir, kalau Lia adalah anak yang paling beruntung. Kaya, cantik, punya apa saja yang dia inginkan. Tapi Lia tidak mempunyai tubuh yang sehat, seperti teman-teman yang lain. Hidupnya selalu terkekang di dalam rumah. Tidak dapat bergerak bebas. Semuanya harus diatur. Walaupun aku miskin, aku masih bisa merasakan semuanya. Untuk apa punya segalanya jika tidak dapat menikmatinya?" Nita merenungi dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan Tuhan padanya. Nita terus berdoa. Semoga Lia cepat siuman dan dapat kembali bermain bersama.
Dari dulu dokter selalu memfonis Lia tak berumur panjang. Walaupun Lia sakit, Lia selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh tentang penyakit yang dideritanya. Lia selalu berharap dapat bermain, berlari bebas, tertawa ceria seperti teman-temannya. Tetapi itu tidak bisa dilakukannya. Dia hanya tersenyum dan duduk di kelas memperhatikan teman yang lainnya, saat upacara pun Lia tidak bisa ikut dan Lia hanya memperhatikan dari dalam kelas.

***

Empat tahun sudah berlalu sejak Lia meninggal di kelas 3 SMP. Sekarang Nita sudah duduk di bangku kuliah fakultas kedokteran. Beasiswa yang Nita terima membawanya ke perguruan tinggi yang sangat terkenal. Nita memahai makna hidup. Walaupun kita memiliki segalanya belum tentu kita dapat meraih apa yang kita inginkan. Hidup miskin, bukan berarti tidak dapat meraih segalanya. Dengan tekad dan kemauan, tekun menjalankan semuanya, pasti apa yang diinginkan dapat tercapai.
Tuhan memberikan jalan yang berbeda. "Persahabatan kit takkan pernah usai" Nita berbicara pada kuburan Lia. "Semoga kau damai di alam sana". Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita harapkan. Dan semuanya akan nampak indah pada waktunya. "Kau tentram di alam sana dan aku akan menjadi seorang dokter yang handal. Aku akan menemukan cara untuk mengobati penyakit leukimia".
Nita berlalu dan meninggalkan makam Lia.



-selamat jalan sahabatku-




No comments:

Post a Comment